Minggu, 01 Juni 2014

LAPORAN PENDAHULUAN RESIKO BUNUH DIRI

A.  MASALAH UTAMA
Resiko bunuh diri
B.  PROSES TERJADINYA MASALAH
1.    Pengertian
Risiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat mengancam kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya. Perilaku bunuh diri disebabkan karena stress yang tinggi dan berkepanjangan dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme koping yang digunakan dalam mengatasi masalah. Beberapa alasan individu mengakhiri kehidupan adalah kegagalan untuk beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stress, perasaan terisolasi, dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/ gagal melakukan hubungan yang berarti, perasaan marah/ bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri, cara untuk mengakhiri keputusasaan (Stuart, 2006).
2.    Tanda Dan Gejala
a.       Mempunyai ide unutk bunuh diri
b.      Mengungkapkan keinginan unutk mati
c.       Mengungkapkan rasa bersaah dan keputusasaan
d.      Impulsif
e.       Menunjukkan perilaku yang mencurigakan ( menjasi sangat patuh)
f.       Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
g.      Verbal terselubung ( berbicara tentang kematian)
h.      Menanyakan tentang obat dosis mematikan
i.        Status emosional ( harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah, mengasibngkan diri)
j.        Kesehatan mental ( secara klinis klien terlihat sangat depresi, psikosis, dam menyalahginakan alkohol)
k.      Kesehatan fisik ( biasanya pada kliemn dengan penyakit kronis atau terminal)
l.        Pengangguran
m.    Kehilangan pekerjaan atau kegagagalan dalam karir
n.      Umur 15- 19 tahun atau di atas 45 tahun
o.      Status perkawinan ( mengalami kegagalan dalam perkawinan)
p.      Pekerjaan
q.      Konflik interpersonal
r.        Latar belakang keluarga
s.       Orientasi seksual
t.        Sumber-sumber personal
u.      Sumber-sumber sosial
v.      Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil
w.    Mandi / hygiene

3.      Rentang Respon Respon adaptif respon maladaptif
peningkatan diri pengambilan resiko yang meningkatkan pertumbuhan perilaku destruktif-diri tidak langsung pencederaan diri bunuh diri



Gambar 1.1.
rentang respon protektfi diri

a.    Peningkatan diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh seseorang mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai  loyalitas terhadap pimpinan ditempat kerjanya.
b.    Beresiko destruktif
Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal.
c.    Destruktif diri tidak langsung
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif) terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya, karena pandangan pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka seorang karyawan menjadi tidak masuk kantor atau bekerja seenaknya dan tidak optimal.
d.      Pencederaan diri
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
e.       Bunuh diri
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang.
Perilaku bunuh diri menurut (Stuart dan Sundeen, 1995. Dikutip Fitria, Nita, 2009) dibagi menjadi tiga kategori yang sebagai berikut.
a.       Upaya bunuh diri (scucide attempt)
 sengaja melakukan kegiatan menuju bunuh diri dan bila kegiatan itu sampai tuntas akan menyebabkan kematian. Kondisi ini terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau diabaikan. Orang yang hanya berniat melakukan upaya bunuh diri dan tidak benar-benar ingin mati mungkin akan mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya.
b.      Isyarat bunuh diri (suicide gesture)
bunuh diri yang direncanakan untuk usaha mempengaruhi perilaku orang lain.
c.       Ancaman bunuh diri (suicide threat)
suatu peringatan baik secara langsung verbal atau nonverbal bahwa seseorang sedang mengupayakan bunuh diri. Orang tersebut mungkin menunjukkan  secara verbal bahwa dia tidak akan ada di sekitar kita lagi atau juga mengungkapkan secara nonverbal berupa pemberian hadiah, wasiat, dan sebagainya. Kurangnya respon positif dari orang sekitar dapat dipersepsikan sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh diri.
4.      Faktor Predisposisi
Lima factor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilaku destruktif-diri sepanjang siklus kehidupan adalah sebagai berikut :
a.       Diagnosis Psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan afektif, penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.
b.      Sifat Kepribadian
Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya resiko bunuh diri adalah antipati, impulsif, dan depresi.
c.        Lingkungan Psikososial
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalah pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial, kejadian-kejadian negatif dalam hidup, penyakit krinis, perpisahan, atau bahkan perceraian. Kekuatan dukungan social sangat penting dalam menciptakan intervensi yang terapeutik, dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab masalah, respons seseorang dalam menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.
d.      Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan factor penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh diri.
e.       Faktor Biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri terjadi peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak sepeti serotonin, adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat dilihat melalui ekaman gelombang otak Electro Encephalo Graph (EEG).
5.    faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang dialami oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang memalukan.Faktor lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal tersebut menjadi sangat rentan.
6.    sumber Koping
Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam kehidupan dapat melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini secara sadar memilih untuk melakukan tindakan bunuh diri. Perilaku bunuh diri berhubungan dengan banyak faktor, baik faktor social maupun budaya. Struktur social dan kehidupan bersosial dapat menolong atau bahkan mendorong klien melakukan perilaku bunuh diri. Isolasi social dapat menyebabkan kesepian dan meningkatkan keinginan seseorang untuk melakukan bunuh diri. Seseorang yang aktif dalam kegiatan masyarakat lebih mampu menoleransi stress dan menurunkan angka bunuh diri. Aktif dalam kegiatan keagamaan juga dapat mencegah seseorang melakukan tindakan bunuh diri.
7.      Mekanisme Koping
Seseorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial, rasionalization, regression, dan magical thinking. Mekanisme pertahanan diri yang ada seharusnya tidak ditentang tanpa memberikan koping alternatif.

C.  DATA YANG PERLU DIKAJIMasalah Keperawatan Data yang perlu dikaji
Resiko bunuh diri Subjektif :
·     Mengungkapkan keinginan bunuh diri.
·     Mengungkapkan keinginan untuk mati.
·     Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
·     Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri sebelumnya dari keluarga.
·     Berbicara tentang kematian, menanyakan tentang dosis obat yang mematikan.
·     Mengungkapkan adanya konflik interpersonal.
·     Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku kekeasan saat kecil.

Objektif :
·     Impulsif.
·     Menunujukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh).
·     Ada riwayat panyakit mental (depesi, psikosis, dan penyalahgunaan alcohol).
·     Ada riwayat penyakit fisik (penyakit kronis atau penyakit terminal).
·     Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau kegagalan dalam karier).
·       Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun.
·     Status perkawinan yang tidak harmonis


D.  MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1.    Risiko bunuh diri
2.    bunuh diri
3.    isolasi sosial
4.    harga diri rendah kronis.



E.  DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Risiko bunuh diri
F.   RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Tujuan umum: sesuai masalah (problem).
 Tujuan khusus
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:
a.       Perkenalkan diri dengan klien
b.      Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak menyangkal.
c.       Bicara dengan tegas, jelas, dan jujur.
d.      Bersifat hangat dan bersahabat.
e.       Temani klien saat keinginan mencederai diri meningkat.
2.      Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri
a.       Jauhkan klien dari benda benda yang dapat membahayakan (pisau, silet, gunting, tali, kaca, dan lain lain).
b.      Tempatkan klien di ruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat
c.       Awasi klien secara ketat setiap saat

3.      Klien dapat mengekspresikan perasaannya
Tindakan:
a.       Dengarkan keluhan yang dirasakan
b.       Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan, ketakutan dan keputusasaan.
c.       Beri dorongan untuk mengungkapkan mengapa dan bagaimana harapannya
d.      Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti penderitaan, kematian, dan lain lain.
e.       Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien yang menunjukkan keinginan untuk hidup.
4.       Klien dapat meningkatkan harga diri
Tindakan:
a.        Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya
b.      Kaji dan kerahkan sumber sumber internal individu.
c.       Bantu mengidentifikasi sumber sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal hal untuk diselesaikan).
5.      Klien dapat menggunakan koping yang adaptif
Tindakan:
a.       Ajarkan untuk mengidentifikasi pengalaman pengalaman yang menyenangkan setiap hari  (misal : berjalan-jalan, membaca buku favorit, menulis surat dll).
b.      Bantu untuk mengenali hal hal yang ia cintai dan yang ia sayang, dan pentingnya terhadap kehidupan orang lain, mengesampingkan tentang kegagalan dalam kesehatan.
c.       Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain yang mempunyai suatu masalah dan atau penyakit yang sama dan telah mempunyai pengalaman positif dalam mengatasi masalah tersebut dengan koping yang efektif.
6.       Klien dapat menggunakan dukungan social
Tindakan:
a.       Kaji dan manfaatkan sumber sumber ekstemal individu (orang orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut).
b.      Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).
c.       Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling pemuka agama).
7.      Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
Tindakan:
a.       Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).
b.      Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).
c.       Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.
d.      Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar

G. POHON MASALAH
effect                                     bunuh diri

core problem                   risiko bunuh diri

causa                                 isolasi sosial          

                                 harga diri rendah kronis

gambar 1.2. pohon masalh risiko bunuh diri



DAFTAR PUSTAKA
Stuart GW, Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC, 1995
Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo, 2003
Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung, 2000
Boyd MA, Hihart MA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Philadelphia : Lipincott-Raven Publisher. 1998

LAPORAN PENDAHULUAN VENTRIKEL SEPTUM DEFEK

VENTRIKEL SEPTUM DEFEK



A. DEFINISI

Defek Septum Ventrikel adalah kelainan jantung bawaan berupa lubang pada septum interventrikuler, lubang tersebut hanya satu atau lebih yang terjadi akibat kegagalan fungsi septum interventrikuler semasa janin dalam kandungan. Sehingga darah bisa mengalir dari ventrikel kiri ke kanan ataupun sebaliknya.




B. KLASIFIKASI

1. Klasifikasi Defek Septum Ventrikel berdasarkan kelainan Hemodinamik

§ Defek kecil dengan tahanan paru normal

§ Defek sedang dengan tahahan vaskuler paru normal

§ Defek besar dengan hipertensi pulmonal hiperkinetik

§ Defek besar dengan penyakit obstruksivaskuler paru

2. Klasifikasi Defek Septum Ventrikel berdasarkan letak anatomis

§ Defek didaerah pars membranasea septum, yang disebut defek membran atau lebih baik perimembran (karena hampir selalu mengenai jaringan di sekitarnya). Berdasarkan perluasan (ekstensi) defeknya, defek peri membran ini dibagi lagi menjadi yang dengan perluasan ke outlet, dengan perluasan ke inlet, dan defek peri membran dengan perluasan ke daerah trabekuler.

§ Defek muskuler, yang dapat dibagi lagi menjadi : defek muskuler inlet, defek muskuler outlet dan defek muskuler trabekuler.

§ Defek subarterial, terletak tepat dibawah kedua katup aorta dan arteri pulmonalis, karena itu disebut pula doubly committed subarterial VSD. Defek ini dahulu disebut defek suprakristal, karena letaknya diatas supraventrikularis. Yang terpenting pada defek ini adalah bahwa katup aorta dan katup arteri pulmonalis terletak pada ketinggian yang sama, dengan defek septum ventrikel tepat berada di bawah katup tersebut. (dalam keadaan normal katup pulmonal lebih tinggi daripada katup aorta, sehingga pada defek perimembran lubang terletak tepat di bawah katup aorta namun jauh dari katup pulmonal)




C. ETIOLOGI

Lebih dari 90% kasus penyakit jantung bawaan penyebabnya adalah multifaktor. Faktor yang berpengaruh adalah :

1. Faktor eksogen : ibu mengkonsumsi beberapa jenis obat penenang dan jamu. Penyakit ibu (penderita rubella, ibu menderita IDDM) dan Ibu hamil dengan alkoholik.

2. Faktor endogen : penyakit genetik (Sindrom Down), anak yang lahir sebelumnya menderita PJB, ayah dan ibu menderita PJB dan lahir dengan kelainan bawaan yang lain.




D. GAMBARAN KLINIS

1. VDS Kecil

a. Biasanya asimtomatik

b. Defek kecil 5 – 10 mm

c. Tidak ada gangguan tumbang

d. Bunyi jantung normal, kadang ditemukan bising pansistolik yang menjalar keseluruh tubuh prekardium dan berakhir pada waktu diastolik karena terjadi penurunan VSD

2. VSD Sedang

a. Sesak nafas pada saat aktivitas

b. Defek 5 – 10 mm

c. BB sukar naik sehingga tumbang terganggu

d. Takipnoe

e. Retraksi

f. Bentuk dada normal

g. Bising pansistolik




E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

§ Auskultasi jantung à mur-mur pansistolik keras dan kasar , umumnya paling jelas terdengar pada tepi kiri bawah sternum

§ Pantau tekanan darah

§ Foto rontgen toraks à hipertrofi ventrikel kiri

§ Elektrocardiografi

§ Echocardiogram à hipertrofi ventrikel kiri

§ MRI




E. KOMPLIKASI

§ Gagal jantung

§ Endokarditis

§ Insufisiensi aorta

§ Stenosis pulmonal

§ Hipertensi pulmonal (penyakit pembuluh darah paru yang progresif)




F. PENATALAKSANAAN MEDIS

Pembedahan :

ð menutup defek dengan dijahit melalui cardiopulmonary bypass

ð pembedahan Pulmonal Arteri Bunding (PAB) atau penutupan defek untuk mengurangi aliran ke paru.

Non pembedahan : menutup defek dengan alat melalui kateterisasi jantung

Pemberian vasopresor atau vasodilator :

1. Dopamin ( intropin )

Memiliki efek inotropik positif pada miocard, menyebabkan peningkatan curah jantung dan peningkatan tekanan sistolik serta tekanan nadi , sedikit sekali atau tidak ada efeknya pada tekanan diastolik ;digunakan untuk gangguan hemodinamika yang disebabkan bedah jantung terbuka (dosis diatur untuk mempertahankan tekanan darah dan perfusi ginjal)

2. Isopreterenol ( isuprel )

Memiliki efek inotropik positif pada miocard, menyebabkan peningkatan curah jantung : menurunan tekanan diastolik dan tekanan rata-rata sambil meningkatkan tekanan sisitolik.










ASUHAN KEPERAWATAN




Dalam diagnosa keperawatan, perlu dilakukan pengkajian data dari hasil :

Anamnesa

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Dari hasil pengkajian tersebut, data yang diperoleh adalah masalah yang dialami klien

Penyebab timbulnya keluhan

Informasi tentang kelainan struktur dan fungsi jantung atau pembuluh darah

Informasi tentang kekuatan jantung dan aktivitas klien yang tidak memperberat kerja jantung




Anamnesa

Hal-hal yang perlu diungkapkan dalam melakukan anamnesa adalah :

1. Riwayat perkawinan

Pengkajian apakah anak ini diinginkan atau tidak, karena apabila anak tersebut tidak diinginkan kemungkinan selama hamil ibu telah menggunakan obat-obat yang bertujuan untuk menggugurkan kandungannya

2. Riwayat kehamilan

Apakah selama hamil ibu pernah menderita penyakit yang dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin, seperti hipertensi, diabetus melitus atau penyakit virus seperti rubella khususnya bila terserang pada kehamilan trisemester pertama.

3. Riwayat keperawatan

Respon fisiologis terhadap defek ( sianosisi, aktivitas terbatas )

4. Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung: nafas cepat, sesak nafas, retraksi, bunyi jantung tambahan ( mur-mur ), edema tungkai dan hepatomegali )

5. Kaji adanya tanda-tanda hipoxia kronis : clubbing finger

6. Kaji pola makan, pola pertambahan berat badan

7. Apakah diantara keluarga ada yang menderita penyakit yang sama

8. Apakah ibu atau ayah perokok (terutama selama hamil)

9. Apakah ibu atau ayah pernah menderita penyakit kelamin (seperti sipilis)

10. Sebelum hamil apakah ibu mengikuti KB dan bentuk KB yang pernah digunakan

11. Obat-obat apa saja yang pernah dimakan ibu selama hamil

12. Untuk anak sendiri apakah pernah menderita penyakit demam reumatik

13. Apakah ada kesulitan dalam pemberian makan atau minum khususnya pada bayi

14. Obat-obat apa saja yang pernah dimakan anak




Diagnosa Keperawatan

1. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan malformasi jantung.

Tujuan : meningkatkan curah jantung

Kriteria Hasil : anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah jantung

Intervensi :

ð Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi perifer, warna dan kehangatan kulit.

ð Tegakkan derajad sinosis ( sirkumoral, membran mukosa, clubbing)

ð Monitor tanda-tanda CHF ( gelisah, takikardi, tacipnea, sesak, lelah saat minum susu, periorbotal edema, oliguri dan hepatomegali )

ð Berkolaborasi dalam pemberian digoxin sesuai order dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toxisitas.

ð Berikan pengobatan untuk menurunkan afterload

ð Berikan diuretik sesuai indikasi







2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal.

Tujuan : meningkatkan resisitensi pembuluh paru

Kriteria Hasil : anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru

Intervensi :

ð Monitor kualitas dan irama pernafasan

ð Atur posisi anak dengan posisi fowler

ð Hindari anak dari orang yang terinfeksi

ð Berikan istirahat yang cukup

ð Berikan nutrisi yang optimal

ð Berikan oksigen jika ada indikasi

3. Tidak toleransi terhadap aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplay oksigen ke sel.

Tujuan : mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat

Kriteria Hasil : anak akan mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat dan anak akan berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan oleh seusianya

Intervensi :

ð Ijinkan anak untuk sering beristirahat dan hindari gangguan pada saat tidur

ð Anjurkan untuk melakukan permainan dan aktivitas ringan

ð Bantu anak untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi dan kemampuan anak

ð Berikan periode istirahat setelah melakuakan aktivitas

ð Hindarkan suhu lingkungan yang terlalu panas atau dingin

ð Hindarkan hal-hal yang menyebabkan ketakutan kecemasan pada anak.

4. Perubahan pertumbuhan dan perkembanganberhubungan dengan tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan

Tujuan : mempertahankan pertumbuhan berat badan yang sesuai

Kriteria Hasil : anak akan tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan

Intervensi :

ð Sediakan diet yang seimbang, tinggi zat-zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat

ð Monitor tinggi dan berat badan, dokumentasikan dalam bentuk grafik untuk mengetahui kecenderungan pertumbuhan anak

5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori

Tujuan : mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan

Kriteria Hasil : anak akan mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan

Intervensi :

ð Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan waktu yang sama

ð Catat intake dan output secara benar

ð Berikan makanan dengan porsi kesil tapi sering untuk menghindari kelelahan pada saat makan

ð Hindari kegiatan perawatan yang tidak perlu

ð Pertahankan nutrisi dengan mencegah kekurangan kalium, natrium dan memberikan zat gizi

ð Sediakan diet yang seimbang, tinggi zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat

ð Anak-anak yang mendapatkan diuretik biasanya sangat haus, oleh karena itu cairan tidak dibatasi.

6. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya status kesehatan.

Tujuan : mencegah terjadinya infeksi

Kriteria Hasil : anak tidak akan menunjukkan tanda-tanda infeksi

Intervensi :

ð Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi

ð Berikan istirahat yang adekuat

ð Berikan kebutuhan nutrisi yang optimal




7. Perubahan peran orangtua berhubungan dengan hospitalisasi anak, kekhawatiran terhadap peyakit anak.

Tujuan : memberikan dukungan pada orang tua

Kriteria Hasil : orang tua akan mengekspresikan perasaannya karena memiliki anak denan kelainan jantung, mendiskusikan rencana pengobatan dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam keberhasilan pengobatan

Intervensi :

ð Ajarkan orang tua untuk mengeskpresikan perasaannya akibat memiliki anak dengan kelainan jantung, mendiskusikan rencana pengobatan dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam keberhasilana pengbatan

ð Eksplorasi perasaan orang tua mengenai perasaan ketakutan, rasa bersalah, berduka dan perasaan tidak mampu

ð Mengurangi ketakutan dan kecemasan orang tua dengan memberikan informasi yang jelas

ð Libatkan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit

ð Memberikan dorongan kepada keluarga untuk melibatkan anggota keluarga yang lain dalam perawatan anak.




Perencanaan pemulangan

1. Kontrol sesuai waktu yang ditentukan

2. Jelaskan aktivitas yang dapat dilakukan anak sesuia dengan usia dan kondisi penyakit

3. Mengajarkan keterampilan yang diperlukan di rumah, yaitu :

ð Tehnik pemberian obat

ð Tehnik pemberian makanan

ð Tindakan untuk mengatasi jika terjadi hal-hal ynag mencemaskan

ð Tanda-tanda komplikasi, siapa yang akan dihubungi jika membutuhkan pertolongan
















SUMBER PUSTAKA




Suriadi, Rita yuliani, (2001). Asuhan Keperawatan Pada Anak, jakarta : CV. Sagung Seto .

Heni Rokhaeni, Elly Purnamasari, (2001). Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, jakarta : Pusat Kesehatan jantung dan Pembuluh Darah Nasional “ Harapan Kita “.

Corwin, Elizabeth J, (200). Buku Saku Patofisiologi, alih bahasa Brahm U Pendit jakarta : EGC

Markum A.H, (1991), Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI.

Doenges, Marilynn E, (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Edisi 3. Jakarta : EGC.

R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong, (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC.

Nettina, Sandra M, (2001). Pedoman Praktik Keperawatan, alih bahasa Setiawan,Sari Kurnianingsih, Monica Ester, jakarta : EGC.

Carpenito Linda Juall, (1997). Buku Saku Diagnosa Keperawatan, edisi 6, jakarta.

M. Tucker, martin, (1998). Standart Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi.Edisi V. Volume 3. Jakarta. EGC.

ASKEP FRAKTUR TIBIA

BAB I
KONSEP DASAR
A.    Pengertian
Menurut Mansjoer (2005:356), fraktur tibia (bumper fracture/fraktur tibia plateau) adalah fraktur yang terjadi akibat trauma langsung dari arah samping lutut dengan kaki yang masih terfiksasi ke tanah.   Menurut pendapat lain yaitu Smeltzer (2002:2357), fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.  Sedangkan menurutN Sjamsuhidajat (1996:1138), fraktur adalah terputusnya jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa.  Kemudian menurut Tucker (1998:198), fraktur adalah patah tulang atau  terputusnya kontinuitas tulang.  Pendapat lain oleh Doenges (1999:761) yang menerangkan bahwa, fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang.
Kesimpulan yang dapat diambil dari berbagai pengertian tersebut di atas adalah bahwa fraktur merupakan suatu keadaan terputusnya jaringan atau kontinuitas tulang dan atau tulang rawan yang pada umumnya disebabkan oleh rudapaksa dan ditentukan sesuai dengan jenis dan luasnya.
B.     Menurut Smeltzer (2001:257) jenis-jenis fraktur yaitu:
Fraktur complete adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran (bergeser pada posisi normal).  Fraktur in complete, patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.
Fraktur tertutup (fraktur simple) tidak menyebabkan robeknya kulit.  Fraktur terbuka (fraktur kompleks) merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.  Fraktur terbuka digradasi menjadi:
Grade I dengan luka bersih kurang dari l cm panjangnya.
Grade II luka lebih besar, luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.
Grade III yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif, merupakan yang paling kuat.
Menurut Smeltzer (2001:257) fraktur juga digolongkan sesuai pergeseran anatomis fragmen tulang, fraktur bergeser/tidak bergeser.  Jenis ukuran fraktur adalah:
1.      Greenstick       :   fraktur di mana salah satu sisi tulang patah sedang sisi         lainnya membengkok.
2.      Transversal     :   fraktur sepanjang garis tengah tulang.
3.      Oblique           : fraktur yang membentuk sudut dengan garis tengah    tulang (lebih tidak stabil dibanding batang tulang).
4.      Spiral               :  fraktur memuntir seputar batang tulang.
5.      Communitive   :  fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen.
6.      Depresi            :   fraktur dengan tulang patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah).
7.      Kompresi         :   fraktur di mana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang).
8.      Patologik         :   fraktur yang terjadi pada bawah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit paget, metastasis tumor tulang).
9.      Avulasi            :  tertariknya fragmen tulang dan ligamen atau tendon pada perlekatannya.
10.  Impaksi           :   fraktur di mana fragmen tulang lainnya rusak.
C.    Etiologi
Menurut Long (1996:357) dan Reeves (2001:248), faktor-faktor yang dapat menyebabkan fraktur adalah:
Benturan dan cidera (jatuh pada kecelakaan).
Fraktur patologik, kelemahan tulang karena penyakit/osteoporosis.
Patah karena letih, patah tulang karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi, seperti karena berjalan kaki yang terlalu jauh.
Fraktur disebabkan oleh trauma di mana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang.  Fraktur sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau luka yang disebabkan kecelakaan kendaraan bermotor.
Sedangkan menurut Appley (1995:212) faktor-faktor yang dapat menyebabkan fraktur adalah:
1.      Fraktur akibat trauma
Terjadi akibat benturan dan cidera yang disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan.
2.      Trauma langsung
Tulang dapat patah pada area yang terkena jaringan lunak.  Pemukulan menyebabkan fraktur melintang.  Penghancuran menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas.

3.      Trauma tidak langsung
Tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang tertekan kekuatan itu.  Kekuatan dapat berupa:
a.       Pemuntiran, menyebabkan fraktur spinal
b.      Penekukan, menyebabkan fraktur melintang
c.       Penekukan dan penekanan menyebabkan fraktur yang sebagian melintang tetapi disertai fragmen kupu-kupu berbentuk segitiga terpisah.
4.      Fraktur kelelahan
Terjadi akibat tekanan berulang-ulang sering ditemukan pada tibia, fibula, metatarsal, terutama pada atlet dan penari.
5.      Fraktur patologik
Fraktur yang dapat terjadi oleh tekanan yang normal jika tulang itu lemah (misal: oleh tumor atau tulang itu sangat rapuh atau osteoporosis).
6.      Fraktur oblique pendek
Fraktur yang terjadi dari kombinasi pemuntiran, penekukan dan penekanan.
D.    Manifestasi Klinis
Menurut Smeltzer (2002:2358), manifestasi klinis fraktur adalah:
Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai tulang diimobilisasi.
Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.
Deformitas (terlihat maupun teraba).
Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.
Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya.
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
E.     Penatalaksanaan Fraktur
1.      Tindakan umum menurut Handerson (1997:222) yaitu:
a.       Reposisi
Setiap pergeseran atau angulasi pada ujung patahan harus direposisi dengan hati-hati melalui tindakan manipulasi yang biasanya dengan anestesi umum.
b.      Imobilisasi
Untuk memungkinkan kesembuhan fragmen yang diperlukan:
1)      Fiksasi Interna
Ujung patahan tulang disatukan dan difiksasi pada operasi misalnya : dengan sekrup, paku, plat logam.
2)      Fiksasi Interna
Fraktur diimobilisasi menggunakan bidai luas dan traksi.
c.       Fisioterapi dan mobilisasi
Untuk memperbaiki otot yang dapat mengecil secara cepat jika tidak dipakai.
d.      Penatalaksanaan medis dengan ORIF
ORIF atau Open Reduction Internal Fixation adalah reduksi terbuka dari fiksasi internal di mana dilakukan insisi pada tempat yang mengalami fraktur.  Kemudian direposisi untuk mendapatkan posisi yang normal dan setelah direduksi, fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat orthopedik berupa pen, sekrup, plat dan paku (Price,1996:374).
2.      Penatalaksanaan keperawatan
Tindakan pada fraktur terbuka harus dilakukan secepat mungkin:
a.       Berikan toksin anti tetanus
b.      Berikan antibiotik untuk kuman gram positif dan negatif.
c.       Dengan teknik debridement.  Prosedur teknik debridement adalah: melakukan nekrosis umum atau anestesis lokal bila luka ringan dan kecil, bila cukup luas pasang tourniquet, cuci seluruh ekstremitas selama 5-10 menit, kemudian lakukan pencukuran, luka diirigasi dengan hall steril, lakukan tindakan desinfeksi dan pemasangan duk, eksisi luka lapis demi lapis mulai dari kulit, sub kulit fasia otot, eksisi otot-otot yang tidak vital dan dibuang, lalu buang tulang-tulang kecil yang tidak melekat periosteum.  Pertahankan program tulang besar yang perlu untuk stabilitas, luka fraktur terbuka dan lalu dibiarkan terbuka dan perlu ditutup satu minggu, kemudian setelah edema menghilang (secondary sature) atau dapat juga hanya dijahit pada situasi bila luka tidak terlalu terbuka atau lebar (jahit luka jarang).
F.     Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada pasien fraktur menurut Doenges (2000: 762) adalah sebagai berikut:
1.      Pemeriksaan Rontgen
Untuk menentukan lokasi atau luasnya fraktur.
2.      CT Scan/ MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Untuk memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
3.      Pemeriksaan Laboratorium
a.       Hb (Hemoglobin) mungkin meningkat (Hemokonsentrasi) atau juga dapat menurun (perdarahan).
b.      Leukosit meningkat sebagai respon stress normal setelah trauma.
c.       Kreatinin, trauma meningkatkan beban kreatinin untuk klien ginjal.
d.      Arteriogram, dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
G.    Konsep Keperawatan
1.      Diagnosa Keperawatan
a.       Nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan.
b.      Gangguan pemenuhan ADL b/d immobilisasi
c.       Potensial terjadinya infeksi b/d adanya luka trbuka.
d.      Cemas b/dkurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.
2.      Intervensi / implementasi
a.       Nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan.
Tujuan : nyeri dapat berkurang atau teratasi
Intervensi :
1)      observasi tanda – tanda vital
Rasional : untuk mengetahui keadaan klien
2)      kaji tingkat nyeri klien dengan skala nyeri
Rasional : untuk megetahui sejauh mana tingkat nyeri yang di rasakan
3)      atur posisi klien dengan menyokong ekstremitasyang berluka
Rasional : untuk memberikan kenyamanan pada klien
4)      beri obat analgetik sesuai program
Rasional : untuk mengurangi atau menghilangkan ras nyeri
b.      Gangguan pemenuhan ADL / immobilisasi
Intervensi :
1)      observasi TTV
Rasional : untuk mengetahui keadaan klien
2)      bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari
Rasional : utuk memenuhi kebutuhan ADLnya
3)      tingkatkan kemandirian klie dalam memenuhi kebutuhan aktivitas sesuai kemempuan
Rasional : mengurangi ketergantungan kepada orang lain
4)      libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari – harinya
Rasional : agar keluarga dapat membantu kebutuhan sehari – hari.
c.       Potensial terjadi infeksi b/d adanya luka terbuka
Tujuan: tidak terjadi infeksi
Intervensi :
1)      kaji keadaan luka klien dan TTV
Rasional : informasi awal dalam intervensi selanjutnya
2)      kaji apakah ada peningkatan nyeri,rasa terbakar
Rasional : tanda – tanda tersebut merupakan awal terjadi infeksi
3)      ciptakan lingkungan yang bersih di sekitr klien
Rasional : menmcegah terjadinya infeksi
4)      ganti balutan / perban tiap hari
Rasional : untuk mencegah terjadinya infeksi
d.      Cemas b/d kurangnya pengetahuan tentan penyakitnya
Intervensi :
1)      kaji tingkat kecemasan klien
Rasional : informasi untuk tindakan selanjutnya
2)      bina hubungan saling percaya antara perawat,klien dan keluarga klien
Rasional : untuk menjalin kerja sama
3)      jelaskan tentang penyakit klien
Rasional : agar klien dan keluarga klien dapat mengerti
3.      Evaluasi
a.       nyeri dapat berkurang atau teratasi
b.      kebutuhan ADL dapat terpenuhi
c.       infeksi tidak terjadi
d.      cemas dapat berkurang atau teratasi.






DAFTAR PUSTAKA
Appley, Ag Dan Scloman, L, 1999, Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Applay Edisi 7, Widya Medika, Jakarta.
Brunner and Suddarth, 2002, Keperawatan Medikal Bedah Volume 3 Edisi 8, EGC, Jakarta.
Carpunito, L. J, 2000, Diagnosa Keperawatan dan Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif (terjemahan), Edisi 2, EGC, Jakarta.
Carpenito, L. J, 2000, Hand Book of Nursing Diagnosis, Edisi 8, EGC, Jakarta.
Depkes, RI, 1996, Asuhan Keperawatan pada Sistem Muskuloskeletal, Depkes RI, Jakarta.
Doenges, E, Marilyn, 1996, Rencana Asuhan Keperawatan dan Pedoman untuk Mendokumentasikan Perawatan Pasien (terjemahan), Edisi 3, EGC, Jakarta.
Handei, Engram, Barbara, 1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah (terjemahan), volume 3, EGC, Jakarta.
Handerson, M. A, 1997, Ilmu Bedah Untuk Perawat, Yayasan Enssential Medika, Yogyakarta.
Mansjoer, Areif, 2005, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, FKUI, Jakarta.
Nanda, 2007, Panduan Diagnosa Keperawatan, Prima Medika, Jakarta.