Rabu, 01 Oktober 2008

MODEL KONSEP INTERAKSI IMOGENE M. KING

A. Kerangka Konsep Imogene M. King
King mengemukakan dalam kerangka konsepnya, hampir setiap konsep yang dimiliki oleh perawat dapat digunakan dalam asuhan keperawatan.
1. Sistem Personal
Menurut king setiap individu adalh system personal (system terbuka). Untuk system personal konsep yang relevan adalah persepsi, diri, peretumbuhan dan perkembangan, citra tubuh, dan waktu.
a. Persepsi
Persepsi adalah gambaran seseorang tentang objek, orang dan kejadian- kejadian. Persepsi berbeda dari satu orang dan orang lain dan hal ini tergantung dengan pengalaman masa lalu, latar belakang, pengetauhan dan status emosi. Karakteristik persepsi adalah universal atau dialami oleh semua, selekltif untuk semua orang, subjektif atau personal.
b. Diri
Diri adalah bagian dalam diri seseorang yang berisi benda-benda dan orang lain. Diri adalah individu atau bila seseorang berkata “AKU”. Karakteristik diri adalah individu yang dinamis, system terbuka dan orientasi pada tujuan.
c. Pertumbuhan dan perkembangan
Tumbuh kembang meliputi perubahan sel, molekul dan perilaku manusia. Perubah ini biasnya terjadi dengan cara yang tertib, dan dapat diprediksiakan walaupun individu itu berfariasi, dan sumbangan fungsi genetic, pengalam yang berarti dan memuaskan. Tumbuh kembang dapat didefinisikan sebagai proses diseluruh kehidupan seseorang dimana dia bergerak dari potensial untuk mencapai aktualisasi diri.
d. Citra tubuh
King mendefinisikan citra diri yaitu bagaimana orang merasakan tubuhnya dan reaksi-reaksi lain untuk penampilanya.
e. Ruang
Ruang adalah universal sebab semua orang punya konsep ruang, personal atau subjektif, individual, situasional, dan tergantung dengan hubunganya dengan situasi, jarak dan waktu, transaksional, atau berdasarkan pada persepsi individu terhadap situasi. Definisi secara operasioanal, ruang meliputi ruang yang ada untuk semua arah, didefinisikan sebagai area fisik yang disebut territory dan perilaku oran yang menempatinya.
f. Waktu
King mendefisikan waktu sebagai lama antra satu kejadian dengan kejadian yang lain merupakan pengalaman unik setiap orang dan hubungan antara satu kejadian dengan kejadian yang lain
2. Sistem Interpersonal
King mengemukakan system interpersonal terbentuk oleh interkasi antra manusia. Interaksi antar dua orang disebut DYAD, tiga orang disebut TRIAD, dan empat orang disebut GROUP. Konsep yang relefan dengan system interpersonal adalah interkasi, komunikasi, transaksi, peran dan stress.
a. Interaksi
Interaksi didefinisak sebagai tingkah laku yang dapat diobserfasi oleh dua orang atau lebih didalam hubungan timbal balik.
b. Komunikasi
King mendefinisikan komunikasi sebagai proses diman informasi yang diberikan dari satu orang keorang lain baik langsung maupun tidak langsung, misalnya melalui telpon, televisi atau tulisan kata. ciri-ciri komunikasi adalah verbal,non verbal, situasional, perceptual, transaksional, tidak dapat diubah, bergerak maju dalam waktu, personal, dan dinamis. Komunikasi dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis dalam menyampaikan ide- ide satu orang keorang lain.
Aspek perilaku nonverbal yang sangat penting adalah sentuhan. Aspek lain dari perilaku adalah jarak, postur, ekspresi wajah, penampilan fisik dan gerakan tubuh.
c. Transaksi
Ciri-ciri transaksi adalah unik, karena setiap individu mempunyai realitas personal berdasarkan persepsi mereka. Dimensi temporal-spatial, mereka mempunyai pengalaman atau rangkaian-rangkaian kejadian dalam waktu.
d. Peran
Peran melibatkan sesuatu yang timbal balik dimana seseorang pada suatu saat sebagai pemberi dan disat yang lain sebagai penerima ada 3 elemen utama peran yaitu, peran berisi set perilaku yang di harapkan pada orang yang menduduki posisi di social system, set prosedur atau aturan yang ditentukan oleh hak dan kewajiban yang berhubungan dengan prosedur atau organisasi, dan hubungan antara 2 orang atau lebih berinteraksi untuk tujuan pada situasi khusus.
e. Stress
Definisi stress menurut King adalah suatu keadaan yang dinamis dimanapun manusia berinteraksi dengan lingkungannya untuk memelihara keseimbangan pertumbuhan, perkembangan dan perbuatan yang melibatkan pertukaran energi dan informsi antara seseorang dengan lingkungannya untuk mengatur stressor. Stress adalah suatu yang dinamis sehubungan dengan system terbuka yang terus-menerus terjadi pertukaran dengan lingkunagn, intensitasnya berfariasi, ada diemnsi yang temporal-spatial yang dipengaruhi oleh pengalaman lalu, individual, personal, dan subjektif.
3. Sistem Sosial
King mendefinisikan system social sebagai system pembatas peran organisasi sosisal, perilaku, dan praktik yang dikembangkan untuk memelihara nilai-nilai dan mekanisme pengaturan antara praktk-praktek dan aturan (George, 1995). Konsep yang relevan dengan system social adalah organisasi, otoritas, kekuasaan, status dan pengambilan keputusan.
a. Organisasi
Organisasi bercirikan struktur posisi yang berurutan dan aktifitas yang berhubungan dengan pengaturan formal dan informal seseorang dan kelompok untuk mencapai tujuan personal atau organisasi.
b. Otoritas
King mendefinisikan otoritas atau wewenang, bahwa wewenang itu aktif, proses transaksi yang timbal balik dimana latar belakang, persepsi, nilai-nilai dari pemegang mempengaruhi definisi, validasi dan penerimaan posisi di dalam organisasi berhubungan dengan wewenang.
c. Kekuasaan
Kekuasaan adalah universal, situasional, atau bukan sumbangan personal, esensial dalam organisasi, dibatasi oleh sumber-sumber dalam suatu situasi, dinamis dan orientasi pada tujuan.
d. Pembuatan keputusan
Pembuatan atau pengambilan keputusan bercirikan untuk mengatur setiap kehidupan dan pekerjaan, orang, universal, individual, personal, subjektif, situasional, proses yang terus menerus, dan berorientasi pada tujuan.
e. Status
Status bercirikan situasional, posisi ketergantungan, dapat diubah. King mendefinisikan status sebagai posisi seseorang didalam kelompok atau kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain di dalam organisasi dan mengenali bahwa status berhubungan dengan hak-hak istimewa, tugas-tugas, dan kewajiban.
B. Model konsep keperawatan king
King memahami model konsep dan teori keperawatan denag menggunakan pendekatan system terbuka dalam hubunagn interaksi yang konstan dengan lingkunagan, sehingga King mengemukakan dalm model konsep interaksi.
Dalam mencapai hubungan interaksi, King mengemukakan konsep kerjanya yang meliputi adanya system personal, system interpersonal dan system social yang saling berhuabungan satu dengan yang lain.
Manusia memiliki 3 kebutuhan dasar yaitu kebutuhan terhadap informasi, kesehatan, kebutuhan terhadap pencegahan penyakit dan kebutuhan terhadap perawatan ketika sakit. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, King mengemukakan pendekatan teori yang terdiri dari komponen yang dapat digambarkan dibawah ini :




Perawat Feedback


Aksi Reaksi Interaksi Transaksi















Klien Feedback
Gb. Model Konsep Menurut King
Berdasarkan gambar tersebut dapat dijelaskan bahwa konsep hubungan manusia menurut King terdiri dari :
1. Aksi merupakan proses awal hubungan 2 individu dalam berprilaku, dalam memahami atau mengenali kindisi yang ada dalam keperawatan dengan digambarkan hubungan keperawatan dan klien melakukan kontrak atau tujuan yang diharapkan.
2. Reaksi adalah suatu bentuk tindakan yang terjadi akibat dari adanya aksi dan merupakan respon dari individu.
3. Interaksi merupakan suatu bentuk kerjasama yang saling mempengaruhi antara perawat dan klien yang terwujud dalam komunikasi
4. Transaksi merupakan kondisi dimana antara perawat dank lien terjadi suatu persetujuan dalam rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan.
C. Asumsi King
King mengangsumsikan model konsep dan teori keperawatan secara eksplisit maupun imlisit. Asumsi eksplisit meliputi :
focus sentral dari keperawan adalah interaksi dari manusia dan lingkunganya, dengan tujuan untuk kesehatan manusia
individu adalah social, mengirim, rasional, reaksi, penerimaan, control, berorientasi pada kegiatan waktu.
proses interaksi dipengaruhi oleh persepsi, tujuan, kebutuhan, dan nilai klien serta perawat.
Manusia sebagai pasien mempunyai hak untuk mendapatkan informasi, berpartisipasi dalam membuat keputusan yng mempengaruhi kehidupanya, kesehatan, dan pelayanan komunitas dan menerima atau menolak keperawatan.
tanggung jawab dari anggota tim keehtan adalah memberikan informasi kepada individu tentang semua aspek kesehatan untuk membantu mereka membuat atau mengambil keputusan.
tujuan dari memberi pelayanan kesehatan dan menerima pelayanan mungkin tidak sama.
Sedangakan asumsi implisit meliputi
1. pasien ingin berpartisipasi secara aktif dalam proses keperawatan.
2. pasien sadar, aktif, dadn secara kognitif mampu berpartisipasi dalam pembuatan atau pengambilan keputusan.
3. individu mempunyai hak untuk mengetahui tentang dirinya sendiri.
4. individu mempunyai hak untuk menerima atau menolak pelayanan kesehatan.
D. Pandangan King terhadap keperawatan
1. Konsep Manusia
King memandang manusia sebagai suatu system terbuka yang berinteraksi dengan lingkungan yang memungkinkan benda, energi, dan informasi dengan leluasa mempengaruhinya. Dalam kerangka konsepnya meliputi tiga system interksi yang dinamis sebagai individu disebut sebagai system personal, ketika individu ini bersatu dalam kelompok disebut system interpersonal. System social tercipta ketika kelompok mempunyai ketertarikan dan tujuan yang sama dalam satu komunitas atau masyarakat.
2. Konsep Lingkungan
Menurut king lingkingan adalah system social yang ada dalam masyarakat yang saling berinteraksi dengan system lainya secara terbuka. Lingkungan merupakan suatu system terbuka yang menunjukkan penukaran masalah, energi, informasi dengan keberadaan manusia. Manusia tersebut akan berinteraksi dengan lingkungan internal dengan penukaran energi yang diatur secara terus menerus terhadap perubahan lingkungan eksternal.
3. Konsep Sehat
King mendefinisikan sehat sebagai pengalaman hidup manusia yang dinamis, yang secara berkelanjutan melakukan penyesuain terhadap stressor internal dan eksternal melewati rentang sehat sakit, dengan menggunakan sumber- sumber yang dimiliki oleh seseorang atau individu untuk mencapai kehidupan sehari- sehari yamg maksimal.
4. Konsep Keperawatan
King menyampaikan pola intervensi keperawatanya adalh proses interaksi klien dan perawat meliputi komunikasi dan persepsi yang menimbulkan aksi, reaksi, dan jika ada gangguan, menetapkan tujuan dengan maksud tercapinya suatu persetujuan dan membuat transaksi.
E. Analisa teori.
Berdasarkan model konsep dan teori keperawatan king dapat disimpulkan bahwa konsep keperawatan menurut king adalAh sebai proses aksi, reaksi, dan interaksi perawat dank lien yang secara bersa- sama memberikan informasi tentang persepsi mereka dalam suatu situasi keperawatan dan sebagai proses interaksi humanis antara perawat dan klien yang masing- masing merasakan situasi dan kondisi yang berlainan, dan melalui komunikasi mereka menentukan tujuan, mengeksplorasi maksud, dan menyetujui maksud untuk mencapai tujuan.


DAFTAR PUSTAKA
Chin, P. L .,& Jacobs, M.K, 1983. Theory and nursing : a systematic approach. St. Louis : The CV Mosby Co.
Fitzpatrick, JJ., & Whall, AL ; 1989. Conceptual models of nursing : analysis and application. Norwalk : Appleton and Lange.
George, J.B, 1995. Nursing theories : the base for professional nursing practice. 4 th end. Norwalk : Appleton & Lange.
Hidayat, Aziz Alimul, 2004. Pengantar konsep Dasar keperawatan. Jakara: Salemba Medika
Potter, Patricia A. 2005. Buku ajar fundamental keperawatan : Konsep, Proses, dan praktik Edisi 4. Jakarta : EGC.

NURSING DIAGNOSIS / DIAGNOSA KEPERAWATAN

sudahkah semuanya sepaham terhadap satu saja dari Diagnosa Perawatan?
Contoh sederhananya begini. Pada suatu saat saya mengisi training dan ceramah kepada teman-teman saya, saya tanyakan, ”Jika pasien mengeluh kesakitan di daerah perut, keluar keringat dingin, diagnosa perawatan yang paling pas untuk pasien ini apa?”

Si A dari DIII Keperawatan X menjawab, ”Gangguan rasa nyaman”
Si B dari DIII Keperawatan Y menjawab, ”Gangguan rasa nyaman nyeri”
Si C dari DIII Keperawatan Z menjawab, ”Ketidaknyamanan”
Si D dari DIII Keperawatan W menjawab, ”Nyeri”
Bisa dibayangkan, jika ada perawat di satu rumah sakit latar pendidikan DIII Keperawatan dari 10 institusi yang berbeda, mungkin akan ada 10 diagnosa keperawatan untuk satu pasien dengan keluhan yang sama. Atau bisa jadi 14 diagnosa yang berbeda, karena satu institusi pun kadang-kadang antar mahasiswanya tidak memiliki persamaan persepsi tentang Diagnosa Keperawatan terhadap satu kondisi pasien. Kok bisa demikian ya? Dan mereka tidak bisa disalahkan, karena memang sampai hari ini, profesi perawat di Indonesia belum memiliki standar baku tentang Diagnosa Keperawatan (yang lebih lengkap disebut SNL). Sayapun berani taruhan, jangankan antar mahasiswa, antar dosen pun kondisinya tidak jauh berbeda.
Di bangku kuliah dari DIII, S1 bahkan mungkin S2 kita, kayaknya juga belum ada Mata Kuliah tentang Diagnosa Keperawatan. Sehingga suudzon (negative thinking) saya, Diagnosa Keperawatan belum mendapat tempat di kurikulum pendidikan keperawatan.
Memang menjadi ajaib. 15 tahun perawat Indonesia memproklamirkan diri menjadi profesi yang mandiri, diagnosa perawatan yang baku masih belum dimiliki. Padahal NANDA-I sudah memperkenalkan kemandirian jauh-jauh hari, dimulai dari ”memiliki diagnosa sendiri.” Silakan buka buku Nursing Intervention Clasification (NIC), kita akan tahu, betapa Diagnosa Keperawatan (NANDA) disejajarkan dengan ICD X (International Clasification Diagnosis X) yaitu daftar Diagnosa Penyakit yang selama ini digunakan oleh dokter sebagai standar diagnosis.
Beberapa kali dalam seminar dan pelatihan, konsep ini saya sampaikan, tapi jawaban yang selalu terlontar, ”NANDA tidak sesuai dengan karakter orang Indonesia.” Atau yang lebih halus, ”Ruh kita sebenarnya sudah sesuai dengan NANDA.” Atau saudara kepengin tahu jawaban yang melecehkan? Ada seorang pembicara ketika dilontarkan tentang NANDA, NIC dan NOC, komentarnya begini, ”Apa itu NAK NIK NUK?” Sebagai seorang ilmuwan, mustinya tidak demikian. Karena kalau kita lihat biografi yang menyusun NANDA, siapa mereka? Tidak sedikit yang Master, Doktor bahkan Profesor dan semuanya RN. Kunjungi situsnya di www.nanda.org.
Saya tidak sedang membela pemikiran saya, membela NANDA atau membela PSIK UGM Yogyakarta yang pertama mempopulerkan NANDA, tapi mari kita berfikir rasional. Kita tidak perlu arogan menerima konsep baru, daripada kita tidak memiliki konsep.
Secara pribadi saya memberikan apresiasi kepada Dr. Ratna Sitorus, M.App.Sc yang telah memberikan komentarnya dalam sebuah workshop aplikasi NANDA, NIC, NOC yang kami adakan akhir 2006. Komentar Beliau, ”Kalau NANDA sudah kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia, saya pikir itu sudah ada nilai-nilai ke-Indonesia-an yang masuk.”

NANDA-I
North American Nursing Diagnosis Assosiation – International (NANDA-I) menyusun klasifikasi Diagnosa Keperawatan dan selalu memperbaharuinya. Saat ini setidaknya lebih dari 160 Diagnosa Keperawatan. Penggunaan diagnosis keperawatan berbasis NANDA dapat membantu penyusunan Standard Nursing Care Plans bagi institusi pelayanan kesehatan terutama rumah sakit.
Nursing diagnoses mendeskripsikan respon pasien, keluarga dan komunitas terhadap masalah kesehatan / proses kehidupan yang aktual maupun potensial. Nursing diagnoses juga menjadi dasar bagi pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan (outcome) , yang dapat dipertanggungjawabkan oleh perawat.
Setiap nursing diagnosis dari NANDA-I mempunyai definisi, defining characteristics (signs/symptoms) dan related/risk factors (etiologies). Bila kita asosiasikan dengan Diagnosa Penyakit, maka hamper sama di mana di sana juga memiliki definisi, tanda-gejala dan penyebab. Sebagai sebuah contoh :
Nursing Diagnosis:
• Knowledge Deficit: Medication (p.118)
Definition: Absence or deficiency of cognitive information related to a specific topic
Defining Characteristics (signs/symptoms): Verbalization of problem, Inaccurate follow-through of instruction, Inaccurate performance test, Inappropriate or exaggerated behaviors (e.g. apathetic, hysterical, hostile, agitated)
Risk/Related Factors (etiology): Cognitive limitation, Lack of exposure, Lack of recall, Information misinterpretation, Lack of interest in learning, Unfamiliarity with information resources

NANDA-I mengklasifikasikan Diagnosa keperawatan dengan Domain, Kelas dan Diagnosa. Ada 13 Domain yang dibuat NANDA-I yaitu :
1. Peningkatan Kesehatan
2. Nutrisi
3. Eliminasi/Pelepasan
4. Aktivitas/Istirahat
5. Persepsi/Kognisi
6. Persepsi Diri
7. Peran Hubungan
8. Seksualitas
9. Toleransi Koping Stress
10. Prinsip Hidup
11. Keselamatan Proteksi
12. Kenyamanan
13. Pertumbuhan / Perkembangan

Masing-masing Domain memiliki Kelas dan masing-masing Kelas memiliki Kelompok Diagnosa. Beberapa contoh saya tunjukan di bawah.

1. Domain Peningkatan Kesehatan
Kelas 1 Kesadaran kesehatan
Kelas 2 Manajemen kesehatan, diagnosa yang masuk: Manajemen rejimen terapeutik efektif, Manajemen rejimen terapeutik tdk efektif

2. Domain Nutrisi
Kelas 1 Ingesti, diagnosa yang masuk : Pola makan bayi tdk efektif, Kerusakan menelan, Ketidakseimbangan nutrisi :kurang, Ketidak seimbangan nutrisi: lebih, Resiko ketidakseimbangan nutrisi : lebih
Kelas 2 Digesti
Kelas 3 Absorpsi
Kelas 4 Metabolisme
Kelas 5 Hidrasi, diagnosa yang masuk : Kurang volume cairan, Resiko kurang volume cairan, Kelebihan volume cairan, Risiko ketidakseimbangan volume cairan, Kesiapan dlm peningkatan keseimbangan cairan

3. Domain Eliminasi/Pelepasan
Kelas 1 Fungsi urinary, diagnosa yang masuk : Kerusakan eliminasi urin, Retensi urin, Inkotinensia urin total, Inkontinensia urin fungsional, Inkontinensia urin reflek
Kelas 2 Fungsi gastrointestinal, diagnosa yang masuk: Inkontinensia usus, Diare, Konstipasi, Risiko konstipasi
Kelas 3 Fungsi integumen
Kelas 4 Fungsi respiratorik, diagnosa yang masuk : Kerusakan pertukaran gas

4. Domain Aktifitas/Istirahat
Kelas 1 Istirahat / tidur, diagnosa yang masuk: Gangguan pola tidur, Kurang tidur, Kesiapan dlm peningkaan tidur
Kelas 2 Aktifitas latihan, diagnosa yang masuk : Risiko sindroma disuse, Kerusakan mobilitas fisik, Keruskan mobilitas fisik di tempat tidur, Kerusakan kemampuan berpindah, Keterlambatan pemulihan pembedahan
Kelas 3 Keseimbangan energy, diagnosa yang masuk : Gangguan lahan energi, Kelelahan
Kelas 4 Respon kardio pulmonal, diagnosa yang masuk: Penurunan curah jantung, Kerusakan ventilasi spontan, Pola nafas tdk efektif, Intoleransi aktifitas, Risiko intoleransi aktifitas, Perfusi jaringan tdk efektif
Kelas 5 Perawatan diri

5. Domain Persepsi/Kognisi
Kelas 1 Perhatian
Kelas 2 Orientasi
Kelas 3 Persepsi / sensori, diagnosa yang masuk : Gangguan persepsi sensori
Kelas 4 Kognisi, diagnosa yang masuk : Kurang pengetahuan, Kebingungan akut, Kebingunangan kronis
Kelas 5 Komunikasi, diagnosa yang masuk: Kerusakan komunikasi verbal, Kesiapan dalam peningkatan komunikasi.

6. Domain Persepsi Diri
Kelas 1 Konsep Diri, diagnosa yang masuk: Gangguan identitas personal, Ketidakberdayaan, Putus asa
Kelas 2 Harga Diri, diagnosa yang masuk : Harga diri rendah kronis, Harga diri rendah situasional
Kelas 3 Gambaran Diri, diagnosa yang masuk: Gangguan citra tubuh

7. Domain Peran/Hubungan
Kelas 1 peran pemberi perawatan
Kelas 2 hubungan keluarga
Kelas 3 penampilan peran, diagnosa yang masuk : Menyusui tidak efektif

8. Domain Seksualitas
Kelas 1 identitas seksual
Kelas 2 fungsi seksual, diagnosa yang masuk: Disfungsi seksual, Pola seksualitas tdk efektif

9. Domain Koping/Toleransi terhadap Stress
Kelas 1 respon post trauma, diagnosa yang masuk : Sindroma trauma perkosaan
Kelas 2 respon koping, diagnosa yang masuk: Takut, Cemas
Kelas 3 stress neurobehavioral

10. Domain Prinsip Hidup
Kelas 1 Nilai
Kelas 2 Kepercayaan
Kelas 3 Nilai / kepercayaan / kesesuaian diri

11. Domain Keselamatan/Perlindungan
Kelas 1 infeksi, diagnosa yang masuk : Risiko infeksi
Kelas 2 cedera fisik, diagnosa yang masuk : Kerusakan membran mukosa oral, Risiko cidera, Kerusakan integritas kulit, Kerusakan integritas jaringan, Bersihan jalan nafas tidak efektif
Kelas 3 kekerasan
Kelas 4 lingkungan yang membahayakan
Kelas 5 proses bertahan
Kelas 6 termoregulasi, diagnosa yang masuk : Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh, Termoregulasi tidak efektif, Hipertermia

12. Domain Kenyamanan
Kelas 1 kenyamanan fisik, diagnosa yang masuk : Nyeri akut, Nyeri kronis, Nausea
Kelas 2 kenyamanan lingkungan
Kelas 3 kenyamanan sosial, diagnosa yang masuk: Isolasi sosial

13. Domain Pertumbuhan/Perkembangan
Kelas 1 pertumbuhan
Kelas 2 perkembangan

Diagnosa-diagnosa Perawatan dari NANDA-I yang ditampilkan di atas adalah diagnosa-diagnosa perawatan yang sering kita jumpai/muncul di lapangan, terutama rumah sakit. Sementara selebihnya banyak yang muncul di tataran praktek perawatan kesehatan masyarakat. Terhadap beberapa kelas yang belum ada diagnosanya, NANDA-I menyampaikan dalam catatan kakinya ”tobe develope”, artinya penelitian-penelitian masih terus dilakukan.